Manfaat Bermain Bricks Untuk Anak

Bricks

Bicara soal mainan anak-anak di rumah, saya nggak pernah mengijinkan anak-anak membeli mainan berlampu yang mengeluarkan musik berisik macam nguing nguing ngeng ngong ngeng atau apalah itu, selain bikin berisik, saya merasa mainan seperti itu baru mengasah kreatifitas saat anak  sudah membongkar mesinnya jadi printilan-printilan kecil, LOL.

Karena itu setiap waktu membeli mainan, saya mengarahkan anak-anak untuk memilih puzzle, balok kayu, atau bricks. Bricks adalah permainan balok dan kepingan plastik berukuran kecil yang bisa disusun dan dibongkar pasang menjadi model apa saja, misalnya mobil, kereta api, bangunan, kota, patung, kapal, kapal terbang, serta robot, semuanya bisa dibuat.

Bricks

permainan balok bongkar pasang ini adalah mainan favorit kami di rumah, bukan cuma anak-anak. Saya dan suami juga sering memainkannya di akhir pekan, yang kami mainkan biasanya bricks berbentuk rumah atau toko.

meski 1 paket bricks kadang memilki harga yang lumayan, saya senang anak-anak jatuh hati dengan permainan ini. Karena nilai manfaat yang mereka dapatkan jauh lebih tinggi dibanding harganya.

Manfaat Bermain Bricks Untuk Anak

Bricks

1. Mengasah kecerdasan visual parsial

Kecerdasan visual parsial atau kecerdasan dimensional adalah kemampuan seseorang dalam melihat hubungan antara objek dan ruang, membayangkan suatu bentuk nyata, dan menciptakan imajinasi bentuk dalam pikirannya.

Saat menyusun bricks anak-anak akan mengenal konsep dasar bangun ruang, mengukur panjang, lebar dan tinggi sebuah bangun yang disusun secara vertikal ataupun horisontal. Dengan begitu kecerdasan visual parsialnya akan terasah baik.

2. Menstimulasi Kreativitas, imajinasi, mengembangkan kemampuan anak bermain peran (roleplay) dan bercerita (story telling).

Saat bermain bricks anak sekaligus belajar bermain peran dan menyusun cerita, misalnya saja tentang kebakaran yang terjadi di sebuah pusat perbelanjaan, ada polisi dan petugas pemadam kebakaran yang datang, ketua regu pemadam berusaha mengatur anak buahnya agar bisa memadamkan api dan menyelamatkan korban. Di sini anak-anak akan terbiasa menyusun cerita secara runut.

Baca juga DIY: Human Organ System

3. Melatih logika berpikir runut dan ketelitian

Sebagian bricks dilengkapi buku petunjuk pemasangan yang harus diikuti. Di sini lah anak dilatih memakai logika berpikir yang runut. Ketelitian dan kejelian anak juga diasah saat mencari dan memasang bentuk, ukuran, warna dan urut-urutan pemasangan sesuai buku petunjuk.

Jika anak sudah mahir melihat buku petunjuk, dia nggak akan kesusahan membaca apapun dengan teliti, termasuk membaca maps. Teman-teman ada yang masih kesulitan membaca maps? Cobain deh main bricks dulu :p

Bricks

4. Meningkatkan kemampuan analisa masalah dan problem solving.

Ada kalanya bentuk atau bangunan yang dibuat anak belum simetris, belum stabil, dan kurang kokoh, di sini anak punya kesempatan belajar menganalisa kekurangan karyanya itu, mungkin ada parts yang belum terpasang atau salah meletakkan. Setelah anak berhasil menemukan penyebabnya, dia juga sudah belajar problem solving.

5. Melatih kesabaran dan kegigihan anak.

Nggak usah anak-anak, bagi sebagian orang dewasa bermain lego kadang bisa bikin frustasi. Hayoo ngaku siapa yang nggak sabaran menghadapi parts yang kecil-kecil ini?

Mulai dari memilih bentuk dan warna yang sesuai, menyusunnya dengan kuat kadang bisa bikin mata siwer. Belum lagi kalau bentuk yang dihasilkan nggak sesuai ekspektasi, tentu anak akan kecewa dan sedih. Kalau yang tua, biasanya udah langsung dikardusin lagi nih, wkwkwk.

Tapi justru saat ini lah anak belajar mengelola emosinya, menerima kekecewaan dan berusaha membuat bentuk baru lagi. Anak akan belajar sikap pantang menyerah, gigih dan selalu berusaha tanpa takut gagal. Dan saat akhirnya dia berhasil membuat bentuk sesuai keinginannya, rasa percaya diri akan kemampuannya akan meningkat pesat.

Bricks

6. Melatih motorik halus serta koordinasi mata dan tangan

Memasang bricks agar dapat menyatu dengan kuat membutuhkan kemampuan motorik halus serta koordinasi mata dan tangan yang baik. Anak yang terbiasa merangkai bricks akan punya jari tangan dengan otot-otot kecil yang lebih kuat dan memudahkan anak saat harus melakukan keterampilan lainnya seperti menulis, menggunting, menggambar, dan lainnya.

Baca juga 5 Cara Membuat Anak Betah Mewarnai dan Menggambar

Yuk Bunda, Dukung anak kita menjadi #GenerasiMaju dengan selalu mendampingi mereka mengembangkan imajinasi dan kreatifitas dengan berbagai aktivitas seru.

#SGMEksplor #mombassadorsgmeksplor

 

5 Cara Membuat Anak Betah Mewarnai dan Menggambar

Bagi sebagian anak, menggambar dan mewarnai adalah proses yang menyenangkan, mereka bisa betah duduk berjam-jam menikmati goresan-goresan krayon atau cat airnya. Sementara untuk sebagian anak lain seperti anak sulung saya, menggambar bisa jadi sebuah aktivitas penuh ‘siksaan’, biasanya setelah menghasilkan karya seni abstrak di 5 menit pertama ((5 MENIT)) dia akan kembali sibuk melompat ke sana-sini, naik turun, dan berlarian mengitari kelas atau rumahnya. Beda lagi dengan adiknya yang memang betah sekali menggambar kapan pun dan di mana pun, termasuk di tembok huhuhuuu.. Continue reading “5 Cara Membuat Anak Betah Mewarnai dan Menggambar”

DIY: Busy Book Project

image

Gara-gara melihat seorang teman pamer Busy Book hasil buatannya di linimasa Facebook, aku jadi ingat kalau pernah membuatkan busy book juga untuk Raya, walaupun belum seratus persen selesai (dan entah kapan bisa benar-benar selesai) tapi sudah sering dimainkan dan dibawa jalan-jalan juga. Selain mampu menstimulasi kemampuan kognitif dan motorik halus anak, sesuai namanya Busy Book ini lumayan banget membuat si bocah sibuk bermain.

Busy Book atau Quiet Book atau Soft Book terbuat dari kain (terutama flannel) yang dibentuk menjadi sebuah buku dengan warna warna cerah, berisi aktivitas permainan sederhana yang mampu merangsang kemampuan motorik halus anak seperti memasang kancing, mencocokkan warna atau bentuk, dan menjahit. Biasanya ditujukan untuk anak usia 6 bulan sampai pra sekolah, tapi bukan berarti anak-anak yang sudah lebih besar seperti usia taman kanak-kanak tidak bisa menikmatinya, sesuaikan saja aktivitasnya dengan kemampuan dan minat mereka.

Harga Busy Book yang banyak dijual memang lumayan mahal, itu karena proses pengerjaannya yang membutuhkan kesabaran, ketelitian, dan waktu yang nggak sebentar, padahal sebenarnya bahan-bahan yang digunakan sangat ramah di kantong. Karena harganya itu maka belakangan ini banyak ibu-ibu (dan juga saya) yang mencoba membuat Busy Book sendiri, selain jauh lebih ekonomis, kita punya kebebasan penuh menentukan warna, tema dan aktivitas di setiap halamannya. Mau coba membuat sendiri juga?

“Aah saya mah ga kreatif..”

Eh, siapa bilang harus jadi kreatif untuk sekedar membuat Busy Book?
Pola dan tutorial pembuatannya tersedia lengkap di Pinterest, tinggal masukkan keywords Busy Book, Quiet Book, Busy Book Tutorial, atau Busy Book Patterns di kolom search dan dijamin kita akan panik sendiri mau mencoba  yang mana dulu 😀

“Yaa nggak punya mesin jahit..”

Tenang aja, Busy Book ini bisa banget dijahit tangan, buka Pinterest lagi lalu ketik Basic Stitch Tutorial untuk mempelajari dasar-dasar menyatukan kain dengan jahitan sederhana, kalau masih bingung bisa lihat di youtube lagi. Tutorial Busy Book tanpa jahitan juga tersedia banyak, cuma bermodal lem tembak saja sudah jadi. Tapi memang Busy Book yang dijahit akan terlihat lebih rapih dan juga lebih awet ditangan anak-anak.

“Males ah, nggak telaten.. nggak ada waktu juga..”

Tahu nggak sih? Ternyata menjahit kain berwarna warni dengan pola yang lucu-lucu ini bikin ketagihan lhoo, semacam stress release kalau sudah bosan dengan adult coloring book yang kekinian itu.
Tipsnya supaya nggak gampang patah semangat:
– Santaiii.. Jangan pasang target harus jadi dalam jangka waktu tertentu.
– Jangan juga langsung kalap beli kain dan printilan lainnya dalam jumlah banyak, pilih satu tema dan beli bahan sesuai kebutuhan tema itu saja lalu kerjakan sampai selesai.
– Jangan tergoda mengerjakan banyak halaman sekaligus hanya karena tergiur dengan pola yang memang semuanya lucu-lucu. Lagipula dalam perjalanan membuat busy book biasanya pemilihan tema akan berubah sesuai mood kita dan kemampuan si anak, jadi sayang kan kalau tiba-tiba kita nggak tertarik lagi dengan tema yang sudah kita pilih padahal  bahan sudah dibeli, mungkin dari segi biaya membeli sedikit-sedikit ini akan lebih boros tapi tujuannya kan bukan buat dijual lagi jadi jangan terlalu mikir untung rugi lah..

Continue reading “DIY: Busy Book Project”

Play Time: What Lives Under The Sea

image

Hari ini mengenalkan anak-anak tentang hewan laut dan habitatnya, siapa saja penghuni bawah laut (selain spongebob dan patrick tentunyaah), bagaimana mamalia laut berkembang biak dan dilanjut open ended play ala kakak A.. tapi karena R masih pilek jadi kita gak main air dulu yaa, lautnya pakai waterbeads aja, eh malah lebih keren lhoo dibanding pakai air.

Gak seperti biasanya yang selalu semangat ngacak-ngacak tiap dibuatin sensory box, kali ini R malah cuma sentuh-sentuh aja, boro-boro diberantakin, figurin ikannya juga cuma dielus elus.. lama aku liatin, kirain gak suka, ternyata karena dia sayang mau berantakin, cuma mulutnya gak berhenti bilang waaa baduus baneeet.. (wah bagus banget)

Hihiii lucu iih, anak 2 tahun udah paham barang cakep dieman-eman 😀

image

Play Time: Let’s Dig In!

image

Tema sensory play hari ini tentang construction site, tujuannya mengenalkan warna primer kuning (khusus buat R), mengenalkan bermacam jenis, nama dan fungsi alat berat, mengenalkan berbagai jenis dan tekstur batu-batuan sekaligus menjelaskan proses terbentuknya batu dan pasir, lalu menjelaskan urutan proses penambangan pasir sampai bisa jadi bahan baku tembok rumah kita.

Agak berat yaa.. hehee.. ya entah deh A bisa paham atau gak, tapi kalau besok dia lewat jalan magelang dan lihat penambang pasir moga-moga dia agak ngerti orang-orang itu lagi apa 🙂

Get Wet with Water Beads

Satu bulanan ini aku mulai kasih AR kesempatan bermain sensori atau istilah kerennya sensory play, itu lhoo kotak yang diisi bermacam benda untuk bermain dengan tema-tema tertentu, benda yang dipakai biasanya yang banyak ditemukan disekitar rumah dengan warna dan bentuk yang menarik, atau benda yang memang disukai anak-anak.

Seperti namanya, permainan sensori bermanfaat untuk menstimulasi berbagai alat sensor atau panca indera anak agar bisa digunakan dengan maksimal saat anak mulai belajar berbagai keterampilan kognitif, bahasa, motorik halus, sekaligus melatih kreativitasnya, karena saat bermain anak-anak akan menggunakan lebih dari satu indera seperti peraba (tekstur), penglihatan (warna dan bentuk), penciuman (bau / wangi), dan pendengaran (bunyi yang dihasilkan saat bermain).

Memang gak setiap hari aku kasih AR permainan seperti ini.. itu karena sensory play berarti juga messy play, yaa mereka baru main begini saat mood ibuknya lagi bagus buat ekstra beberes hihihiii..

Yang paling sering aku kasih waterbeads dan pasir, anak mana sih yang gak suka main air dan main pasir? begitu juga AR, bisa betah sampai 2 jam kalau sudah dapat kesempatan pegang air atau pasir.
Khusus untuk pasir, aku pakai pasir pantai yang warna putih, sudah diayak dan dicuci dengan sabun antiseptik, jadi lumayan aman lah yaa..

Nah, kalau Water beads alias hidro gel ini lagi kekinian banget di antara emak-emak yang punya toddler dan preschooler. Saking penasarannya aku sampai berburu ke SD disekitar rumah karena yang jual memang biasanya abang-abang mainan di depan sekolahan.
image

Teksturnya yang kenyal dan licin bikin AR geli sekaligus penasaran, sengaja aku cemplungin ke bak air dan minta mereka ambil satu-satu dengan dijumput dua jari, maksudnya melatih kelenturan jari-jari mereka untuk persiapan belajar menulis nanti..