Home Spa

Saya selalu ngiler setiap kali lihat tayangan di TV tentang Baby Spa dan semacamnya.. huu kapan ya saya bisa bawa Arka ke tempat seperti itu? nggak tahu juga apa di Jogja sini ada atau nggak yang seperti itu..
lagipula setelah saya tanya ke teman-teman di Jakarta, harga perpaketnya itu termasuk maharani juga yaaa.. untuk tarif sekali kunjungan sudah bisa buat bayar gaji ART sebulan..:(

Tapi tetap saja nggak pernah bosan mantengin TV kalau lagi ada liputan tentang si baby spa ini, sambil ngekhayal lagi nyemplungin Arka disalah satu baknya (halahh lebay)..

eh.. kalau dilihat-lihat lagi, bak renang yang mereka pakai itu kok ukurannya sama dengan bak mandi di rumah ya? beneran loh sama…
jadi kepikiran buat nyemplungin Arka di situ saja.. toh sama-sama bak berisi air, sama-sama bisa mengapung, anaknya juga belum bisa protes kalau tempat nyemplungnya nggak keren kayak di TV itu, hehehee..

Jadi sekarang mulai merealisasikan proyek kecil tapi njelimet ini, jangan dikira nggak ada kendalanya loh..

pertama, Arka belum punya neck-ring *emangnya mau langsung diceburin gitu aja terus disuruh ngapung?*

kedua, butuh berapa panci air panas buat mengisi bak segitu gede? bisa nombok beli gas doonk.. *emakpelit*

ketiga, umur Arka saat itu sudah 3 bulan lebih, dari hasil browsing disebutkan kalau bayi berusia diatas 3 bulan sudah punya fear factor, gimana caranya supaya dia merasa nyaman dan nggak takut?

masalah pertama dulu.. cari neck-ring!
langsung meluncur ke baby shop andalan, yay! mereka punya produk persis seperti yang saya mau, murah juga.. 38 ribu rupiah saja ternyata..:)

kedua, atas pertimbangan efisiensi pengeluaran rumah tangga disektor gas elpiji (padahal pelit) kami sepakat kalau Arka mulai dibiasakan mandi dengan air dingin..
caranya? air hangat yang dia gunakan untuk berendam di embernya pelan-pelan saya ganti air dingin langsung dari kran, air di ember saya buang sebanyak dua gayung, saya ganti dengan air dingin sebanyak dua gayung juga, begitu terus sampai air hangatnya benar-benar berganti dingin, setelah Arka mulai kelihatan kedinginan baru saya angkat.. Seperti itu terus yang saya lakukan setiap pagi dan sore selama satu minggu.. dan memang nggak sia-sia.. hari jumat pagi Arka kelihatan sudah menikmati air dinginnya, bahkan saat langsung saya beri air dingin di embernya dia tenang-tenang saja.. *berhasil*

sekarang tinggal membereskan si fear factor ini, biar jadi tugasnya Mas C lah.. dia nggak keberatan kok ikut nyemplung ke dalam bak supaya Arka nggak merasa sendirian..

sabtu siang, It’s show time!!
setelah Arka saya massage ala salon bayi, bak penuh terisi air (sebelumnya sudah disikat bersih dulu loh..), neck-ring dipasang dan Mas C nyemplung duluan ke dalam bak, waktunya si bos kecil ini menikmati spa pertamanya..
di luar dugaan kami, baru kakinya saja yang dicelupkan dia langsung menjerit-jerit dan semakin histeris saat seluruh badannya masuk ke air.. haduuh percobaan pertama gagal!!
Besoknya dicoba lagi, masih tetap jerit-jerit histeris.. gagal lagi.. ya sudah.. berharap minggu depan bisa lebih sukses..

Minggu depannya, tiba-tiba si oma punya ide “mending baknya jangan langsung dipenuhin, nyemplung aja duluan bareng ayah, sambil main-main didalem sambil diisi baknya pake slang, ntar kalo udah bisa ngambang baru dipakein neck-ring..”

Oma piinteeeeerr…

jadi lah ada dua lumba-lumba besar dan kecil ndeprok (apa ya bahasa indonesianya?) didalam bak mandi kami..

nggak salah looh.. lumba-lumba kecilnya anteng sambil asyik bermain bola-bola berdua ayahnya, nggak terasa air mulai penuh, saatnya neck-ring dipasang, Mas C tetap di dalam bak sambil menunggu air penuh..
begitu air penuh, Mas C keluar dan si baby lumba-lumba ini pun mengapung, nggak nangis blass!!
dia malah kelihatan enjoy, berputar-putar dan menggerakkan kaki-kakinya..
wohooo berhasil!!

diminggu-minggu berikutnya no more bathroom drama..
si bayi lumba-lumba selalu kegirangan setiap kali tau neck-ring akan dipasang di lehernya, dan belakangan ini dia nggak cuma jago berputar-putar di dalam bak tapi sudah mencoba telentang, menendang, dan mengoceh.. hahaa…

Arka’s First Book

Weekend kemarin kami mengajak baby A ke Gramedia, niatnya mau cari-cari buku resep untuk referensi MPASInya baby A.. diluar dugaan kami, bocah kecil ini berteriak kegirangan saat mulai menyusuri rak-rak buku, walaupun sedang digendong, dia gerakan kaki-kakinya menendang-nendang, tangannya sibuk meraih buku-buku di sisi kiri-kanan kami, lucu sekali..:’)

Terpikir untuk membelikannya satu atau dua buah buku, tentu saja yang penuh warna dengan gambar besar dan sedikit saja teks.. o iya, harus yang terbuat dari kertas tebal supaya nggak gampang jadi korban jari-jari usilnya Arka ya..
Setelah lama pilih-pilih, nggak ada satupun yang nyantol dan sreg di hati dan dompet.. Yang satu gambarnya kurang ramai, yang lainnya terlalu heboh untuk bayi umur 4 bulan, kalaupun ada yang kami suka harganya nyaris nggak masuk akal..X_X
Pakai Flash Card? Nope! Saya mau Arka mengenal buku, bukan kartu..

Akhirnya pulang cuma menenteng buku-buku persiapan MPASI, tanpa buku baru untuk Arka..:(

Sampai di rumah, Oma baru ingat kalau masih menyimpan buku-buku saat Om Angga kecil, terbungkus rapih dan licin di laci..
Waah ternyata isinya bagus-bagus, ada beberapa buku baby disney, buku sesame-street, dan buku petualangan hewan-hewan..

Dan ternyata Arka menyukai buku baby disneynya.. Pagi ini saat saya sodorkan didepannya, sambil tengkurap dengan mata melotot dan bibir monyong dia asyik mengoceh mengagumi gambar-gambar donald dan mickey di bukunya itu, kelihatannya Arka sangat menikmati buku yang dia kira mainan barunya..

Saya sengaja nggak membelikan Arka soft book yang bisa diuwel-uwel, diremas-remas bahkan bisa dibawa mandi (lhooh mau mandi atau baca buku?) seperti yang banyak dijual di baby shop..
Saya mau Arka mencintai buku.. bukan hanya isi cerita si buku itu tapi juga fisiknya, saya mau saat besar nanti dia merawat dan menjaga buku-bukunya tetap rapih, dan menurut saya itu harus diajarkan sejak awal..
Dengan memberi Arka softbook yang bisa bebas diremas-remas saya takut dia keburu menganggap begitu lah cara memperlakukan si buku.. setelah selesai dibaca, kemudian dilempar dan diremas.. dan saat saya kasih Arka buku sungguhan maka dia akan berpikir “yang itu boleh dikruwes kenapa yang ini nggak boleh?”
malah akan menambah PR saya untuk mengajari dia hal baru lagi..

Awalnya nggak tega juga melarang Arka setiap mau meraih dan meremas buku yang sedang kami baca bersama-sama.. pelan-pelan saya jauhkan bukunya sambil bilang “bukunya disayang yaa.. kalau rusak nanti nggak bisa dibaca lagi..”
Biasanya setiap saya bilang begitu Arka akan melotot memandang saya dengan muka lucunya..:) lalu saya sodorkan bukunya dan kami baca bersama-sama lagi, begitu seterusnya sampai halaman terakhir selesai dibaca, kemudian saya tutup bukunya dan taruh di meja.
Arka selalu memperhatikan setiap gerakan yang saya lakukan saat memegang bukunya itu..
Mudah-mudahan dengan rutinitas yang saya contohkan setiap membacakan Arka buku bisa mengajarkannya bagaimana cara yang baik memperlakukan buku, dan saat Arka dewasa dia benar-benar bisa mencintai buku-bukunya..