Mencipta Clutch Daluang Dengan Mesin Jahit Brother

Disclaimer: Daluang, doodle, dan menjahit dengan mesin. Semuanya adalah hal yang benar-benar baru bagi saya, jadi tulisan ini akan lebih panjang dari biasanya dan dipenuhi ekspresi norak separuh curhat.

 

Saya baru sadar kalau artikel yang paling banyak pembacanya di blog ini adalah tentang DIY Busy Bookย yang pernah daya buat, gara-gara itu juga teman-teman mengira saya punya mesin jahit dan sudah terbiasa dengan jahit menjahit. Padahal boro-boro punya, pegang mesin jahit saja belum pernah ๐Ÿ˜€
Satu-satunya pengalaman saya dengan mesin jahit adalah saat kecil jari-jari saya pernah terjepit mesin jahit mama, sejak itu saya sama sekali nggak tertarik main-main di dekat si mesin hingga benda itu akhirnya raib dari rumah kami tanpa jejak yang jelas. Sampai saya menikah, saya masih menganggap menjahit itu susah, dan menyebalkan hahaah, iya menyebalkan karena pasang kancing baju suami saja nggak pernah bisa rapih -__-
Lalu saya punya anak dan mendadak ingin membuat busy book dari kain flanel. Nggak bisa memasukkan benang ke jarum tapi mau bikin soft book?ย Hahahaah Bandung Bondowoso aja kalah nekad ๐Ÿ˜€ Eh tapi kalau Bandung Bondowoso punya pasukan jin untuk membantunya, saya punya kuota internet buat buka youtube dan pinterest doong.. Dan secara ajaib, proyek busy book pertama saya sukses!
Sejak itu saya makin semangat membuat mainan berbahan flanel, selain busy book saya sudah pernah membuat puzzle peta dunia, puzzle organ tubuh manusia dan city car playmat.

Sebagian mainan flanel yang pernah saya buat, semuanya dijahit tangan

Melihat semangat menjahit saya, suami pun luluh, beberapa kali dia menawari saya beli mesin jahit, Horeee.. Tapi ternyata nyali saya belum genap untuk mampu berhadapan dengan mesin jahit, bayangan tentang pengoperasiannya yang susah membuat saya selalu mbulet setiap disuruh survey mesin jahit yang saya inginkan.

Sampai suatu hari, ada tawaran mengikuti Workshop Clutch Bag Daluang bersama Brother Indonesia dan Komunitas Kriya Indonesia yang bertempat di Pesona Jogja Homestay. Sudah lah gratis, dapat kesempatan menjajal mesin jahit Brother pula. Rejeki banget ini!

 

Alhamdulillah dapat seat di grup 1 ๐Ÿ™‚

PESONA JOGJA HOMESTAY

 

Karena kemarin pertama kalinya saya mendatangi Homestay yang sangat kondang di jagad blogger ini (dan saya memang nggak terlalu familiar dengan daerah Umbulharjo), saya mengandalkan Waze untuk menuntun langkah saya, eh laju motor saya maksudnya. Duuh jangan ditiru ya setir motor sambil bolak balik lihat HP, disamping nggak aman, macam bang gojek aja rasanya -__-

 

Lokasinya mblusuk, saya sempat suudzon dengan si Waze karena dibawa melewati gang-gang kecil padat rumah, tapi ternyata dia masih tetap istiqomah menuntun saya ke jalan yang benar, saya selamat sampai di Pesona Jogja tanpa nyasar, yeaaay.

 

Sayang, saat saya sampai, parkirannya sudah penuh oleh mobil dan motor, sudah nggak asik lagi untuk foto-foto penampakan homestay yang sebetulnya keren dan luas ini. Buat yang penasaran, baca saja reportasenya Mbak Lusi tentang Pesona Jogja Homestayย yang lengkap kap.

 

DALUANG, SAKSI PERADABAN MANUSIA

 

Selesai registrasi dan menikmati kudapan kecil, acara dimulai dengan penjelasan menarik tentang Daluang dan tipe mesin jahit Brother yang nanti akan kami gunakan untuk membuat clutch. Adalah Profesor Ishamu Sakamoto, seorang ahli Daluang dari Jepang yang membagi ilmunya pada kami dengan didampingi Mbak Astri Damayanti sebagai penerjemah.

Kiri ke kanan: Mbak Asri Damayanti, Mbak Tanti Amelia, dan Profesor Ishamu Sakamoto

Daluang adalah sejenis kain kulit kayu yang sudah ada sejak Zaman Megalithikum, banyak ditemukan di kawasan ras Austronesia seperti Pulau Formosa, Kepulauan Nusantara, Mikronesia, Melanesia, Polinesia, dan Pulau Madagaskar (wikipedia), karenanya Daluang sering disebut fosil hidup dan diakui oleh UNESCO sebagai warisan dunia.
Di Indonesia, Daluang masuk melalui Sulawesi sebelum akhirnya menyebar di banyak kebudayaan nusantara dengan sebutan yang berbeda-beda, di Polynesia dan dunia internasional dikenal dengan nama Tapa, di Sulawesi Tengah dan Kalimantan disebut dengan Fuya, dalam bahasa Jawa dikenal sebagai Glugu atau Galugu, dalam bahasa Melayu dikenal sebagai Sepukau, Saeh dalam bahasa Sunda, Dhalubang atau Dhulubang dalam bahasa Madura, Kembala dalam bahasa Sumba Utara, dan Rowa dalam bahasa Sumba Barat (Wikipedia).

Selain digunakan sebagai bahan pakaian pada masa kerajaan nusantara kuno, Daluang juga biasa dipakai sebagai media menulis manuskrip kuno, menulis Al Quran di pesantren, dan bahan baku pembuatan wayang.

Daluang ini ternyata mahal sekali, selembar berukuran 90×75 cm bisa mencapai harga Rp.350.000,- Itu karena proses pembuatan Daluang yang rumitnya keterlaluan. Bermula dari kulit pohon Sae ( Broussonetia Pappyryfera Vent) yang ditumpuk dan ditumbuk menggunakan batu Kei, diperam, lalu dijemur di bawah terik matahari. Seluruh proses pembuatannya bisa mencapai 7 tahap dan tidak boleh berhenti sebelum benar-benar selesai atau si kulit kayu akan kering mengeras, tidak bisa dijadikan kain (hyuuuh..) Tapi karena pengerjaannya yang demikian, Daluang jadi bisa bertahan lama tidak mudah hancur hingga ratusan tahun, bahkan jika dirawat dengan baik Daluang ini bisa bertahan hingga ribuan tahun.

 

KELAS DOODLING

Puas mendengarkan kisah Daluang, kami diajak lanjut ke sesi workshop, kali ini peserta dibagi menjadi dua kelas agar semua punya kesempatan menghias Daluang dan menjahitnya menjadi sebuah clutch cantik. Saya kebagian masuk kelas doodling terlebih dulu dengan dimentori Mbak Tanti Amelia, seorang doodler dan bloger kondang yang hasil karyanya di Instagram @nengtantiamelia selalu bikin ngowoh (apa ya bahasa Indonesianya? )

Let’s start doodling!

Di sini saya senang sekaligus mules, senang karena akan mendapat ilmu baru, dan mules karena gambar lingkaran saja nggak pernah bisa bulat, jadi gimana mau doodling? Untung mbak Tanti punya kesabaran luar biasa menghadapi murid seperti saya yang berisik tapi kertas gambarnya kosong melompong ๐Ÿ˜€

Mbak Tanti beraksi ๐Ÿ™‚

Karena mahalnya harga Daluang, kami tidak langsung menggambar di atas Daluang melainkan berlatih dulu menggunakan media kertas. Mbak Tanti memberi contoh berbagai teknik doodle yang seluruhnya berusaha saya tiru dengan khidmat, tapi apa daya, bagaimanapun saya berusaha menduplikasi hasil akhirnya tetap berbeda 180 derajat -__-

Doodle ala saya

Dimenit-menit terakhir sebelum kami harus mulai menggambar di Daluang, Mbak Tanti mengajari motif zen tangled yang konon paling mudah di dunia doodling, biasa diajarkan kepada anak-anak usia prasekolah (prasekolah, catet!) untuk melatih konsentrasi dan kognitif mereka.
Dan yeaay, akhirnya saya sukses menghias lembar daluang saya dengan motif zen tangled ini *terharu*

Alhamdulillah, jadiii..

 

MENJAHIT CLUTCH DENGAN BROTHER GS2700

Setelah berhasil lolos dari kelas doodle kami pindah ke kelas menjahit yang dimentori Mbak Astri Damayanti dari Komunitas Kriya Indonesia, seorang crafter yang juga blogger. Sama seperti Mbak Tanti, Mbak Astri ini juga sabarnya sekali menghadapi kami (saya maksudnya) yang tiap menit merengek karena buta total soal pengaturan mesin, benang yang lepas, ndak bisa pasang kancing, dan lain-lainnya.. maaf sudah ngerepoti terus yaa mbak..

Suasana kelas menjahit

Untung mesin jahit Brother GS2700 yang jadi tandem saya kemarin mudah sekali pengoperasiannya, nggak perlu repot-repot engkol, tinggal injak pedal dan pegang kain dengan kedua tangan untuk menjaga agar jahitan tetap lurus, apalagi LED yang tertanam di mesinnya membuat detail dan batas kain terlihat jelas, membantu banget untuk memimalisir jahitan mencong akibat mata siwer (duuh bahasanya..)

Langkah pertama membuat clutch adalah dengan menjahit kain dan busa tas menjadi satu, dipasangi kancing magnet, lalu diberi pelapis tipis warna putih pada busa bagian dalam dengan cara disetrika (semoga kebayang yaa).

Langkah kedua ala saya (nggak tahu yang sebenarnya bagaimana ๐Ÿ˜€ ) adalah menjahit Daluang ke tutup clutch, bagian ini beneran bikin ndredeg deh, ya karena Daluangnya yang mahal itu, kan sayang sekali kalau sampai remuk di tangan saya. Alhamdulillah berkat mesin jahitnya yang sangat kooperatif si Daluang baik-baik saja dan bisa menempel paripurna di tutup clutch.

Terakhir tinggal menjahit bagian kiri dan kanan clutch dengan posisi kain pelapis ada di luar, setelah sisi kiri dan kanan tertutup sempurna baru dibalik. Di sini kesalahan saya, saat menjahit kiri dan kanan nggak ngepasi dulu dengan benar, jadi begitu dibalik ada ujung yang nongol semena-mena, rusak lah mahakarya saya hahahaaah..

Mahakarya saya ๐Ÿ˜€

 

Tapi meski hasil akhirnya belum sempurna, saya jatuh cinta dengan si Brother ini, bayangkan saja, saya yang belum pernah pegang mesin jahit sama sekali mendadak bisa membuat clutch di perkenalan pertama kami *terharu lagi*

Semoga tawaran suami untuk membelikan saya mesin jahit masih berlaku, kan sekarang sudah nggak perlu survey merk lagi hehee. Bakal banyak sekali mainan flanel yang bisa saya buat dengan GS2700, belajar bikin baju anak-anak juga aah ๐Ÿ™‚

Teman tandem yang membuat saya jatuh cinta ๐Ÿ™‚

Keistimewaan lain GS2700 adalah bisa membuat 27 jenis jahitan dengan tombol pengatur panjang dan lebar jahitan yang mudah digunakan, saking mudahnya saya kemarin nggak perlu waktu lama untuk bisa memindah-mindah pengaturan jenis jahitan. Ditambah lagi pengaturan sekoci yang cepat, bisa menjahit lurus, zig zag dengan satu langkah membuat lubang kancing.

Soal daya listrik, rata-rata mesin Brother mengkonsumsi daya listrik yang tidak terlalu besar, antara 40-51 watt untuk mesin jahit dan 30-132 watt untuk mesin bordir portable hingga professional.

Lho, ada mesin bordir juga? Iya dong, Brother punya koleksi ย mesin jahit dan mesin bordir lengkap yang bisa kita pilih sesuai kebutuhan dan budget kita, bahkan Brother dengan tipe NV-980D menjadi First Official Disney Sewing Machine di Indonesia yang mampu menghasilkan 40 pola bordir berbagai karakter Disney, keren!

Penasaran dengan berbagai tipe mesin Brother lainnya?

Bisa langsung cuci mata di www.brother.co.id
Atau akun social medianya:
Twitter @brother_indo
Instagram @brotherindonesia
Facebook: BrotherSewingClub.ID

Terima Kasih Brother, Kriya Indonesia, dan Pesona Jogja Homestay ๐Ÿ™‚
(Visited 68 times, 1 visits today)

7 thoughts on “Mencipta Clutch Daluang Dengan Mesin Jahit Brother”

  1. Untuk urusan jahit menjahit aku dadah-dadah ke kamera aja makYo. Perasaan dulu jaman SMA pernah nyoba make mesin jahit, tapi kok jadinya maju mundur cantik begitu. Abis itu wes. Rampungan. Prakarya ga jadi. Fix dibawa ke penjahit pasar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *