Pesona Tiga Budaya di Masjid Agung Jawa Tengah

image

Masih cerita tentang Semarang, kali ini di Masjid Agung Jawa Tengah atau kerennya Great Mosque of Central Java. Sebuah masjid yang bukan cuma memiliki arsitektur unik perpaduan eropa, timur tengah, dan nusantara, tapi juga sarat filosofi keislaman pada tiap bangunannya. Karena itu selain sebagai tempat ibadah dan kajian Islam, Masjid ini juga menjadi ikon pariwisata kota Semarang.

Sebelum Mengunjungi Sang Dewi di Vihara Buddhagaya Watugong kami lebih dulu mampir ke sini untuk Ishama (dan foto-foto). Alhamdulillah lokasinya nggak terlalu jauh dari makam bapak. Untuk bisa sampai di sini cukup gampang karena jaraknya yang cuma 15 menit dari alun-alun kota (kalau ndak macet yaa..), atau misalnya lewat Tol Bawen seperti kami kemarin bisa keluar di pintu Tol Gayamsari, lalu cari Jl. Gajah Raya, paling gampang sih hidupkan google maps hihiii..

Tidak ada retribusi apa-apa untuk bisa masuk ke area Masjid, lahan parkirnya pun luas dan teduh, cocok banget buat gelar tikar lalu buka rantang disitu 😀

Memasuki halaman masjid, kami disambut oleh 9 air mancur yang dibuat sebagai representasi 9 Walisongo, tokoh-tokoh penyebar agama Islam di tanah Jawa, lalu semakin ke barat terdapat 5 air mancur lagi yang merujuk pada 5 rukun Islam. Makna keempat belas air mancur ini adalah ajaran Walisongo saat menyebarkan Islam yang selalu berpegang teguh pada Rukun Islam.

Belum sempat berfoto di depan air mancur, anak-anak sudah kabur melesat menuju pelataran atas, sepertinya mereka penasaran dengan kemegahan Al Qanatir, sebuah gerbang besar melingkar berhias kaligrafi Arab dengan pilar-pilar mirip Kolosseum Roma di Italia. Katanya gerbang ini tersusun dari 25 tiang penyangga yang mengingatkan pada 25 Nabi utusan Allah.

image
Al Qanatir

image

image

image

Setelah melewati Al Qonatir, kita bisa melihat pelataran lebar tempat dipasangnya 6 tiang berpayung besar sebagai cerminan 6 Rukun Iman. Pada waktu tertentu seperti shalat Idul Fitri dan Idul Adha, payung-payung tersebut akan terbuka secara otomatis persis seperti payung-payung Masjid Nabawi.

Jika pintu gerbang dan payung di pelataran mengadopsi arsitektur Romawi dan Arab maka atap masjid yang berbentuk limas menegaskan gaya arsitektur khas jawa seperti Masjid Demak dan Masjid Kudus di Jawa Tengah, sedangkan dibagian ujungnya berupa kubah besar dikelilingi 4 menara runcing mirip Masjid Nabawi di Madinah.

image
Keenam Payung sebagai simbol Rukun Iman

Sebelum masuk ke dalam Masjid, coba tengok sebelah selatan, masih ada satu bangunan megah yang juga menjadi daya tarik Masjid ini. Menara Asmaul Husna atau Al Husna Tower, menjulang tinggi mencapai 99 meter sesuai jumlah nama-nama indah milik Allah SWT. Dari lantai teratas menara, pengunjung bisa melihat pemandangan kota Semarang mulai dari daerah atas yang berbukit-bukit sampai ke Pelabuhan Tanjung Emas berikut segala aktivitas perkapalannya melalui teropong pandang. Selain itu di dalam menara ini terdapat Café yang lantainya bisa berputar 360 derajat selama 15 menit, jadi sembari makan kita bisa puas menikmati kota Semarang dari ketinggian. Sayangnya menara selalu ditutup pada waktu-waktu shalat, sedangkan kami ke sana bertepatan dengan terdengarnya adzan ashar, hiks.. di kunjungan berikutnya kami pasti akan sampai di lantai teratas 🙂

image
Al Husna Tower

Untuk kegiatan wisata, jam buka Masjid Agung Jawa Tengah dibatasi pada pukul 08.00 – 21.00 WIB, tapi kalau untuk kegiatan ibadah bisa dilakukan kapan saja.

image

Semarang memang paling pas untuk wisata religi, setelah Masjid Agung dan Vihara Buddhagaya, semoga kami bisa secepatnya kembali, penasaran banget dengan Kuil Sam Poo Kong dan Gereja Blenduk, eh pingin ke Cimory juga sih.. terus coba-coba lewat aja ke Lawang Sewu, dan yang pasti anak-anak sudah request mau lihat Museum Kereta di Ambarawa, hahaaa banyak pe-ernya 😀

(Visited 115 times, 1 visits today)

2 thoughts on “Pesona Tiga Budaya di Masjid Agung Jawa Tengah”

  1. Malah barutau sejarahnya. Fotonya asik banget. Aku 2x kesitu pas tengah hari panas2nya. Lantainya itu ruar biasa puanase. Kudu pakai kaos kaki.

    1. Iya maklus, panasnya juara, tapi katanya sunset di sini cantik banget, moga2 besok bisa balik lagi pas magrib.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *