Nikmat Ujian Itu Bernama Pneumonia

Hi there,

Hampir tiga bulan aku gak menyentuh blog ini, gak juga dengan                                                                                                                                                                         media sosial lainnya, semenjak Raya sakit semangat aku buat menulis memang meruap gak jelas kemana.

Iya. Raya sakit. Parah. Itu membuat kami ada di titik terendah dalam semua hal, sampai hari ini juga masih harus berjuang untuk bisa kembali keatas.

Jadi ceritanya..

Awal bulan Desember 2013 Raya mulai batuk, ringan aja sih.. cuma sesekali dan terdengar grok grok ada dahaknya gitu, kalau malam hari kadang demam sekitar 37,5 derajat. Seperti Arka dulu kalau sakit, aku kencengin aja ASInya, pagi-pagi dijemur terus kalau mulai demam aku kasih paracetamol.

Setelah hampir seminggu batuknya belum berkurang, demamnya pun hampir setiap malam, tanggal 9 Desember kami bawa ke dr. Astriana Sp.A yang praktek di Apotek Sultan Agung dan RB. Khadijah, beliau memang dokter yang pegang Raya waktu baru lahir. Diagnosa beliau Raya kena Bronkitis dan pulangnya dapat ‘cinderamata’ antibiotik Cefilla, puyer obat batuk dan anti alergi yang aku lupa apa namanya (kebiasaan jelek!).
Iya, iya.. aku tau kok kalau bronkitis sebetulnya gak perlu antibiotik, tapi kalau anak lagi sakit gitu, semua ilmu pengobatan rasional yang sudah diserap biasanya raib gitu aja kan? (kebiasaan jelek lagi!). Jadilah Raya minum antibiotik dan puyer pertamanya di umur 2,5 bulan.

Minggu, 15 Desember 2013

Hari ketujuhobatnya habis. Terus sembuh? Gaaak sama sekali!  Batuknya malah makin menggila, demamnya juga makin sering.

Senin, 16 Desember 2013

Aku bawa Raya ke Puskesmas Kraton untuk cek darah rutin dan tes widal, Alhamdulillah hasil widalnya negatif, tapi jumlah leukositnya mencapai 20 ribu, padahal normalnya diangka 10 ribu. Raya kena infeksi berat 🙁
Dokter Puskesmas langsung kasih rujukan ke spesialis anak di RSUD.Jogja, sayangnya karena waktu itu ribet sama Raya yang cranky aku gak baca diagnosa yang tertulis di surat rujukannya.
Hari itu juga kami berangkat ke RSUD.Jogja tapi karena sudah jam 11 siang pendaftaran poliklinik sudah tutup, ya pulang lagi deh..

Selasa, 17 Desember 2013

Siap-siap balik ke RSUD.Jogja tapi ayah agak keberatan, dia takut Raya diminta opname dan diinfus segala. Akhirnya ga jadi berangkat sambil berharap  ada keajaiban Raya bisa sembuh sendiri (keputusan bodoh kami yang sampai sekarang masih aku sesalin!)

Dua hari di rumah tanpa berbuat apa-apa, iseng-iseng aku baca lagi surat rujukan dari Puskesmas dan baru sadar kalau diagnosa yang tertulis di situ BRONKOPNEUMONI, Tuhaaan.. kami bodoh banget.. nyeseeelll.. semoga kami belum terlambat dan Raya belum parah.

Kamis pagi, 19 Desember 2013

Kami langsung ke poli anak di RSUD.Jogja, dan benar aja, gak pakai babibu lagi dokternya langsung minta Raya mondok sambil ngomel-ngomel menyalahkan kami karena baru datang sekarang.
Setelah dapat kamar dan diperiksa intensif baru ketahuan kalau kuku-kuku kaki dan tangannya sudah membiru, suara paru-parunya rame banget yang menandakan dahaknya terlalu banyak, tarikan napasnya berat dan saturasi oksigennya pun cuma 70% 🙁 🙁
Astaghfirullah.. maafin Bunda dan Ayah ya dek.. kami salah! kami teledor sampai gak tau kalau adek kesakitan begini..

Tim dokter RSUD.Jogja menyatakan gak sanggup menangani Raya karena harus masuk PICU dan pakai alat bantu napas sedangkan di situ gak tersedia.
Di Jogja cuma tiga rumah sakit yang punya fasilitas PICU, RSUP.Sardjito, RS.Bethesda, dan RS.Jogja International Hospital.
Setelah konfirmasi ke tiga RS itu hasilnya: PICU di Sardjito dan Bethesda penuh, sedangkan di JIH ada tapi harus kasih DP dulu 20 juta. Kami gak punya uang segitu, apalagi harus ada sekarang juga 🙁
Gak lama perawat kasih kabar kalau PICU di RSUD.Soeradji Klaten ada yang kosong dan kalau kami setuju akan langsung diantar kesana, haah Klaten??
disamping jaraknya yang jauh kami juga gak tau pelayanan di sana gimana. Dua jam lebih kami berdua berunding, bingung, sedih, takut, akhirnya kami putuskan bertahan aja disini sambil menunggu PICU di Sardjito atau Bethesda ada yang kosong. Bismillah.. semoga keputusan kami gak salah..

Setelah Ayah tanda tangan surat pernyataan tidak bersedia di rujuk ke Klaten, tim dokter janji berusaha semaksimal yang mereka bisa. Oksigen dipasang, pulse oxymeter portable diganti yang besar jadi bisa mendeteksi saturasi lebih intensif, selang NGT dipasang supaya Raya gak perlu menyusu langsung, kasih paru-parunya kesempatan istirahat, infus yang model plug-in juga sudah dipasang untuk memasukkan antibiotik, sekarang Raya dapat ampicylin dan gentamycin, berapa dosisnya aku kurang tau. Selain itu, setiap dua jam sekali di nebu untuk mengencerkan dahaknya.

Selepas isya aku liat Raya mulai tenang walaupun badannya penuh selang. Sesekali bangun tapi lebih banyak tidur. Aku usahain dia selalu kenyang dengan kasih ASIP 80 -100 ml per dua jam.
image

Kalau tau ternyata separah ini tadi sih langsung kami bawa ke RS.Bethesda aja, sekarang mau pindah ke sana malah bingung, lihat kondisi Raya masih begini, nanti di jalan gimana? di sana PICUnya juga masih penuh, jadi pasti ditaruh di kamar rawat biasa kaya sekarang.

Rasanya kaya mimpi, tiba-tiba ditampar keras banget, kami masih gak percaya kalau ternyata Raya kritis 🙁
Selama ini Raya gak pernah rewel, frekuensi menyusu dan pola tidurnya juga gak berubah sejak baru lahir sampai sekarang, bahkan tadi pagi di mobil dalam perjalanan ke RS masih ketawa-ketawa setiap digodain ayah, tapi ternyata hari ini, diumurnya yang tepat 3 bulan, Raya harus merasakan jarum infus, selang NGT, selang oksigen dan nebulizer.
sekali lagi, maafin kami ya dek..

Dokter bilang penyebab terbesar pneumoni karena asap rokok.
Nah karena si ayah memang perokok aktif yang nyebelin, jelas lah darimana sumber penyakit ini.. 🙁

image
selamat ulang bulan ketiga, pejuang kecil kami..

aku lanjutin ceritanya besok yaa.. karena masih panjaaaang bangeeeet..

(Visited 86 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *