Susu UHT VS Susu Bubuk

camilan sore ini sukses menyemangati saya untuk merasa harus menulis tentang sesuatu..
yup!! karena mereka (4 potong cheese-stick yang saya lumuri coklat leleh dan segelas UHT milk dingin) benar-benar kombinasi pas untuk ngeboost moood saya kapanpun dan dimana pun.

jadi kenapa sore ini kita nggak membahas tentang si susu UHT ini saja? karena saya sadar pemilihan susu (terutama untuk saya si bumil ini) masih menjadi topik yang sering diperdebatkan.
hebatnya iklan dan promosi di semua media dari produsen susu khusus ibu hamil tentu saja membuat kita (para mom-to-be) ngiler untuk mengkonsumsi produk terbaik dari sekian yang ditawarkan itu, ya iya lah.. siapa yang nggak pingin janinnya tumbuh sehat, kuat, dan pintar saat lahir nanti, pokoknya persis seperti iming-iming iklannya itu…
saya pun demikian, sejak testpack saya menunjukkan 2 garis, yang pertama terlintas dipikiran saya adalah “harus cepat-cepat beli vitamin asam folat dan susu bumil..!! kalau perlu berangkat ke supermarket sekarang juga..”
dan hari itu juga saya memang langsung beli susu bumil yang menurut saya paling lengkap komposisi gizinya, tapi ternyata.. ampun deh.. saya benar-benar nggak sanggup mentolerir rasanya, bukannya lidah ini manja tapi memang rasanya luar binasa..
belakangan saya tahu kalau bukan saya saja yang mengeluhkan hal ini.

dan sejak hari itu perburuan saya akan susu bumil yang memiliki kandungan vitamin super dengan rasa yang lumayan (saya ngga minta yang enak..) semakin menjadi-jadi, Mas C dan Mama hanya menuruti saja.
tapi perburuan tersebut nggak bisa berlangsung lama, semakin umur kehamilan saya bertambah keluhan akan mual-mual dan morning sickness yang menyerang saya semakin hari semakin dahsyat, jangankan minum susu bumil, air putih saja susah sekali bisa masuk.. akhirnya saya menyerah, tidak mengkonsumsi susu sama sekali sampai kehamilan saya berusia 20 minggu, Mas C yang khawatir kalau-kalau malaikat kecilnya nggak mendapat asupan nutrisi yang cukup (walaupun saya tetap rutin meminum vitamin dari dokter) mulai membujuk saya supaya mau mengkonsumsi susu lagi, nggak harus susu bumil, susu apapun yang saya suka dia nggak masalah..
dan bujukannya berhasil, saya mulai bersemangat memilih-milih susu yang bisa akur dengan tubuh saya, pilihan jatuh pada susu formula biasa yang bisa diminum untuk seluruh keluarga, satu bulan saya bisa menikmati sufor tersebut sebelum pada akhirnya saya iseng-iseng mencoba susu UHT kemasan 250 ml plain yang banyak dijual di supermarket.

Ajaib, saya yang dahulu sebelum hamil nggak bisa menerima rasa susu apapun selain coklat ternyata bisa sangat menyukai si susu UHT plain ini..
Jadilah mulai saat itu saya menghentikan konsumsi sufor dan beralih pada susu UHT plain kemasan 1 liter sampai sekarang. namun karena saya tetap meminum multivitamin dari DSOG saya, maka konsumsi susu saya batasi antara 400-500 ml setiap harinya.

setelah 3 bulan rutin mengkonsumsi susu UHT saya menyadari kalau saya sudah sangat jatuh cinta dengan produk ini, keuntungan yang saya rasakan:
1. sangat praktis, untuk yang kemasan 1 liter tinggal tuang saja, dan saat saya sedang diluar rumah, mudah sekali mencari si susu ini dimanapun dan bisa langsung diminum.
2. rasanya sangat ringan, benar-benar mirip rasa susu sapi, apalagi kalau sebelumnya disimpan di kulkas, wah segar sekali…
3. harga lebih murah dibanding susu formula untuk bumil.
4. dan yang terpenting, sekarang saya bebas dari sembelit dan wasir.. dulu saat masih mengkonsumsi sufor saya sering sembelit, padahal setiap hari saya juga rajin mengkonsumsi pepaya dan berbagai macam sayur. setelah berpindah ke susu UHT, sekalipun saya nggak pernah merasakan sembelit walaupun kadang saya nggak sempat memakan buah atau sayur.

namun saat teman-teman saya tahu kalau saya mengkonsumsi susu UHT mereka mempertanyakan kandungan gizinya yang menurut anggapan banyak orang sangat kurang kalau dibandingkan sufor, hmm..bukannya sama-sama susu yah??

Nope.. ternyata walau sama-sama susu, susu UHT lebih baik dibanding susu bubuk (susu formula, susu pertumbuhan, susu kalsium, susu ibu hamil, susu ibu menyusui, dll)

Susu UHT (Ultra High Temperature) merupakan susu yang diolah dengan suhu pemanasan sangat tinggi (135-145ºC) dalam waktu yang sangat singkat (2-5 detik).
Pemanasan dengan suhu yang sangat tinggi bertujuan untuk membunuh seluruh mikroorganisme, baik pembusuk maupun patogen (penyebab penyakit).
Waktu pemanasan yang sangat singkat dimaksudkan untuk mencegah kerusakan nilai gizi susu, serta untuk mendapatkan warna, aroma dan rasa yang relatif tidak berubah dibandingkan susu segarnya.
Di dalam teknologi pangan, telah diketahui bahwa pengolahan dengan suhu pemanasan yang tinggi tetapi dengan waktu yang sangat singkat, lebih dapat menyelamatkan nilai gizi daripadasuhu pengolahan yang lebih rendah tetapi dengan waktu yang lebih lama.
Pengolahan susu cair segar menjadi susu UHT relatif lebih sedikit pengaruhnya terhadap kerusakan zat-zat gizi, dibandingkan dengan pengolahan susu bubuk.

Susu bubuk berasal susu segar yang kemudian dikeringkan, umumnya menggunakan spray dryer atau roller dryer. Kerusakan protein sebesar 30% dapat terjadi pada pengolahan susu cair menjadi susu bubuk.
Kerusakan vitamin dan mineral juga lebih banyak terjadi pada pengolahan susu bubuk, dan karena vitamin banyak rusak/hilang pada saat proses pengolahan maka produsen menambahkan vitamin sintetis pada susu bubuk tersebut, karena itu di setiap kemasan susu bubuk pasti tercantum bermacam-macam nama dan jenis vitamin dengan diembel-embeli fungsinya yang super sakti itu..

Susu UHT dapat dijadikan sebagai pengganti susu bubuk.
Dalam beberapa hal, susu UHT lebih awet disimpan pada suhu kamar selama 10 bulan meskipun tanpa bahan pengawet.
Konsumsi susu penting untuk meningkatkan sistem imunitas (kekebalan) tubuh terhadap berbagai penyakit. Sesungguhnya susu cair dapat diandalkan sebagai bahan pangan sumber zat gizi yang sangat baik. Itulah alasan utamanya mengapa konsumsi susu cair di dunia selalu lebih tinggi dibandingkan susu bubuk.
Hanya di Indonesia, berlaku hal sebaliknya. Hal tersebut merupakan warisan masa lalu, khususnya di zaman penjajahan yang lebih mudah untuk mendistribusikan susu bubuk ketimbang susu cair.
Kendala lain di masa lalu adalah keterbatasan teknologi pengolahan susu dan keterbatasan lemari pendingin.

saya pribadi sih merasa ini sudah pilihan yang paling sesuai, terlepas dari perdebatan seputar kandungan gizinya, dalam memilih susu saya lebih mementingkan rasanya, percuma kalau kandungan gizinya hebat tapi menyiksa saya dan malah bisa bikin hoeekk..
toh masih ada nasi, kentang, daging, ikan, ayam, sayur, buah, telur dan kacang hijau yang jelas lebih baik dari pada hanya segelas susu..
multivitamin dari DSOG juga sangat setia menunggu untuk saya habiskan, hehehee…

Sumber: Mengapa Susu UHT?

(Visited 99 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *